
Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat — 26–27 Oktober 2025
Bagi banyak masyarakat hutan di Sulawesi Barat, aren adalah emas yang tersembunyi — sumber gula batok, gula semut, dan beragam produk turunannya. Namun potensinya jauh dari optimal. Berdasarkan data PT Duta Karya Aren, provinsi ini memiliki sekitar 144.900 pohon aren — kurang lebih 115 pohon per hektare — tetapi baru sekitar 35% yang disadap secara aktif.

Untuk menjawab kesenjangan itu, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua mempertemukan petani dan pelaku industri dalam Temu Usaha HHBK Komoditi Aren di Polewali Mandar pada 26–27 Oktober 2025. Tujuannya: menghubungkan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pengelola aren dengan pihak industri yang membutuhkan bahan baku mereka, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan.
Kegiatan ini bertujuan membuka informasi akses pasar bagi pengelola aren, menyebarkan pengetahuan pengelolaan pohon aren secara berkelanjutan, dan membuka jalan bagi Nota Kesepahaman (MoU) antara kelompok tani dan mitra industri. Narasumber dari KPH Mapilli, PT Duta Karya Aren, dan Yayasan Sabuk Hijau Indonesia (Greenbelt Initiative) memaparkan potensi, kebijakan, dan peluang pengembangan komoditas aren. Sebanyak 15 KUPS dan sejumlah pendamping perhutanan sosial turut hadir.

Diskusi memunculkan gambaran yang jelas: sekitar 30 KUPS di Polewali Mandar memiliki potensi besar untuk pengembangan aren, meski kontinuitas produksinya masih perlu ditingkatkan. Dalam ekosistem ini, Yayasan Sabuk Hijau Indonesia berperan sebagai fasilitator dan mitra — membantu kelompok tani memperkuat kapasitas dan menjalin hubungan usaha yang langgeng.
Inilah kerja yang mengubah hutan yang lestari menjadi penghidupan yang berkelanjutan: bukan dengan menebangnya, melainkan dengan membantu masyarakat memetik nilai dari apa yang sudah disediakan hutan.









Leave A Comment