
Desa Taora, Buntu Malangka, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat — 29 Desember 2024
Hutan yang sehat juga bisa menjadi ekonomi yang hidup — asalkan masyarakat yang merawatnya mampu menjual hasil produksinya. Melalui sekolah lapang Forest Programme IV, anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Lestari telah belajar membuat tiga produk ramah lingkungan: Pupuk Organik Cair (POC), pupuk kompos, dan Mikroorganisme Lokal (MOL). Tantangan berikutnya adalah mengubah produk itu menjadi pendapatan.

Itulah fokus kegiatan model dan uji coba pemasaran yang dilaksanakan tim LPPM Universitas Muhammadiyah Pare-pare bersama Yayasan Sabuk Hijau Indonesia (Greenbelt Initiative) di Desa Taora, Kecamatan Buntu Malangka, Kabupaten Mamasa, pada 29 Desember 2024.
Alih-alih ceramah, kegiatan dirancang dengan pendekatan belajar sambil melakukan dalam tiga tahap:

- Membaca pasar — diskusi kelompok untuk menganalisis peluang dan mengenali hambatan dalam memasarkan hasil hutan bukan kayu (HHBK).
- Praktik langsung — membuat konten promosi media sosial, merancang label produk, dan menetapkan harga jual yang kompetitif, dilanjutkan simulasi penjualan langsung.
- Monitoring dan evaluasi — mengukur sejauh mana peserta mampu menerapkan keterampilan pemasaran yang baru.
Peserta kemudian membawa pembelajaran itu ke lapangan, mengunjungi toko dan lokasi penjualan di sekitar Desa Taora untuk mengamati perilaku konsumen dan mengidentifikasi potensi pasar.
Hasilnya adalah usaha berbasis hutan yang mampu berdiri sendiri. Dengan memadukan kekuatan perguruan tinggi, lembaga pendamping, dan masyarakat, KTH Lestari kini memahami cara membuat produk mereka berdaya saing — dan menjaga manfaatnya tetap mengalir bagi masyarakat sekitar hutan. Sebuah model yang dirancang untuk direplikasi kelompok tani perhutanan sosial lain di wilayah ini.









Leave A Comment